Postingan

Rembulan Merindu

Padang mawar merah itu kian memesona. Merahnya  menyilaukan. Wanginya memabukkan. Inong bergeming, hatinya terpatri di situ. Tak hendak beranjak barang seinci. Kemilau keindahan yang tak kuasa ia tolak atau memang tak mau ia tolak. Inong menyadari posisi dirinya.  Paham betul kekurangan dan keinginan diri. Masalah timbul ketika ia ngotot memposisikan diri bukan pada posisinya. Apakah karena ia terlalu memegang teguh rasa keadilan atau memang makna keadilan yang gagal ia pahami. Inong merasa sudah benar berada pada posisinya, tetapi ia merasa tidak diperlakukan sesuai posisinya. Wajar jika begitu banyak tanya di benak Inong atas fakta bahwa dirinya bukan prioritas. Ia tak biasa menerima  perlakuan itu. Jadi sangat sulit bagi Inong untuk menerima bahwa ia tak sepenting itu untuk berada di situ. Ada begitu banyak pengorbanan yang harus dilakukan. Mengesampingkan harga diri. Membuang prinsip-prinsip hidup yang selama ini ia agungkan. Kadang Inong merasa ingin pergi menjauh, t...

Rembulan Luruh ke Pangkuan

Setapak demi setapak Inong menapaki undakan rasa. Begitu berwarna hidupnya kini. Merah jingga kuning hijau biru nila ungu. Pelangi rasa itu silih berganti menghiasi hari-harinya. Semarak memesona sehamparan padang mawar.  Pernah satu masa Inong tak bisa menikmati semua keindahan itu. Hati dan pikirannya terlalu galau. Ambigu. Membiarkan mata hatinya terpesona atau menutup mata untuk semua keindahan. Sampai kapan ia kan membiarkan perang batin itu berkecamuk. Meluluhlantakkan semua yang dimilikinya. Hidupnya ia pertaruhkan untuk sesuatu yang ia sendiri tak pernah tahu ujungnya. Terlalu berani ia jalani hari-harinya tanpa ada sesuatu yang bisa ia pegang kala tergelincir. Satu kata ajaib itu saja tak kan cukup baginya tuk mampu bertahan. Butuh ribuan kata lain agar membuatnya lebih yakin.  "Masih belum percaya? Harus bagaimana lagi membuktikannya? Tak cukupkah yang telah kulakukan selama ini?" suara itu kembali terdengar jelas di gendang telinganya bergaung di relung kalbu. Meng...

Rembulan di Padang Es

Padang es di hati Inong telah berubah wujud. Benar-benar berubah! Mulai ditumbuhi rerumputan dan kuncup bunga. Ia menikmati yang sedang bertumbuh di hatinya. Dirawatlah taman itu dengan segenap jiwa raganya. Dengan telaten Inong  menjaga semua yang dimilikinya kini. Puisi-puisi yang tiada henti mengalir. Sapa sayang selalu berulang. Semua candu nan sungguh memabukkan. Sampai suatu saat Inong disadarkan bahwa semuanya tak benar. Rasa itu, padang bunga nan semerbak berhakkah ia miliki? Tetapi, Inong tak hendak berpaling dari keindahan semua itu, pesonanya sungguh  membutakan. Berisik nurani kian  gemuruh. Gaungnya perlahan mengusik kelopak-kelopak melati, kemuning, anyelir, mawar. Lalu perlahan semuanya luruh dan tersemai di sepanjang perjalanan yang dilalui. Inong kembali pada kenyataan, "Benarkah ia hanya penikmat dan bukan pemilik?" Kesadaran itu menohok relung-relung kalbunya. Inong bergeming. Enggan beranjak tak hendak bergerak. Gempuran keinginan hati dan kewarasan pi...

Rembulan di Riak Danau

Pertemuan Inong dengan teman masa kecilnya beberapa waktu berselang meninggalkan jejak tak terhapus di hippocampusnya. Ia mencoba mengubrak-abrik area itu. Sampai tak ada ruang yang terlewati. Ia sibak helai demi helai lembaran masa lalu. Tetap tak ia temui satu gores pun kenangan, catatan atau apalah yang tertoreh tentangnya. Ia menyerah! Inong tenggelam dalam kesibukan.Tak hendak memberi ruang pada pikirannya tuk terus mengingat pertemuan tak disengaja itu. Ketika semesta kembali mempertemukan mereka, Inong kelabakan menautkan banyak fakta. Mencoba mempertahankan pikirannya pada posisi netral. Bersiap menarik tuas  kemudi dan melaju, tapi hatinya enggan beranjak. Sungguh membuatnya tak mengerti. Beribu tanya berseliweran di ruang-ruang otaknya. Mengapa semesta begitu kejam?  Angin lirih menelusup relung kalbunya. Sepoinya perlahan menerpa. Rasa damai mengalir bersama semerbak mawar. Perisai yang coba dipasangnya perlahan koyak. Semilir menyisir igir hati, padang es itu mulai...

Rembulan di Pucuk Cemara

Inong mengusap wajahnya pada salam terakhir. Sekaligus menghapus air mata yang berebut ke luar. Menderas. Lalu luruh di pangkuan membasahi mukena yang dikenakan. Penyerahan dirinya secara utuh pada sang Pencipta perlahan menahan air sebening kristal itu tidak sampai menganak sungai. Perjuangan menjaga hati dan pikiran tetap on the track sungguh menguji daya lentingnya. Jiwa raga berjibaku mengawal kewarasan agar tak terbang bersama prasangka. Pikirannya berujar, " Inong, semua baik-baik saja. Tak ada yang terjadi dengannya. Sungguh ia masih menyayangimu! Tetapi, hati kecilnya berbisik lirih jika ia masih menyayangiku mengapa tega membiarkanku menunggu sepanjang waktu? " Pergulatan hati dan pikiran itu berlangsung sebanyak helaan napas. Keduanya tak ada yang mau mengalah. Itu sangat menguras energi, hampir membuatnya gila. Suara seseorang mengumandangkan tahrim menerobos tidurnya yang gelisah. Inong perlahan membuka kelopak mata. Mengumpulkan segenap kesadaran. Menggenapkan...

Nikmat Mana yang Kau Dustakan

Ketika begitu banyak menerima kabar bahagia, ada dua hal besar yang terjadi. Pertama bersyukur. Kedua mawas diri. Kedua rasa itu otomatis melintas di hati dan pikiran. Menumbuhkan kesadaran.  Rasa syukur menuntun untuk berucap alhamdulillah dibarengi rasa haru. Berterima kasih kepada Yang Menciptakan Kebahagiaan. Hal ini bukti betapa rahman sang Pencipta kepada umatNya. Rasa syukur juga menimbulkan rasa yang lain, yakni mawas diri. Layakkah aku menerima kebahagiaan ini? Hal itu didasari oleh pengakuan bahwa diri ini adalah pendosa yang teramat sering abai terhadap perintahNya. Dan teramat sering asyik masyuk dengan syahwat dunia.  Betapa banyak hal yang menjadi alasan untuk abai. Pertama alasan keluarga. Keluarga sadar atau tidak sering memberi ruang untuk mengabaikan perintahNya. Tak bisa disebutkan satu persatu karena demikian banyaknya. Sebagai contoh ketika anak melakukan kesalahan, sebagian orang tua secara membabi buta tetap membela anaknya, menyatakan anaknya tidak mela...

Perjalanan

Perjalanan membawaku sejauh ini. Pada satu titik pencapaian.Tak mudah untuk berada di sini. Banyak tantangan dan ujian yang harus dilewati. Cemoohan, kata-kata nyinyir seiring ekspresi getir teramat sering mampir. Hampir mengikis igir-igir hati dan pikir mengakibatkan keduanya pada kondisi kritis. Kolaps! Aral melintang yang menghadang satu persatu dapat dilalui.  Tentu aku tak sendiri melewati itu semua. Begitu banyak tangan terulur yang membantu untuk bangkit. Kerelaan, keberanian berkorban, kasih sayang, dan doa-doa dilangitkan oleh mereka yang peduli, sepengetahuanku maupun tidak. Baru kemudian seiring waktu aku paham tentang sikap hitam putih yang terpampang nyata, dan sikap abu-abu yang ambigu. Pemahaman itu datang melalui perenungan, pengetahuan langsung maupun penjelasan dari pihak lain. Kesadaran akan fakta mempermudah aku menentukan letak layar. Sikap hitam putih, keterangbenderangan yang mereka tunjukkan memberi ruang kepadaku untuk berkaca. Kemudian mematut diri. Memper...